Ketika Nelayan Berhenti Melaut
Tak terasa sudah hampir 4 tahun menginjakkan kaki di jembatan jeramba khas Desa Pesisir bagian Timur Sumatera Selatan, yang sering dikenal dengan Desa Sungsang. Banyak catatan cerita suka dan duka, serta aroma khas ikan, udang dan terasi yang masih basah dalam ingatan. Foto diatas merupakan potret Nelayan buruh di Desa Sungsang yang sudah berhenti melaut dan memilih sebagai buruh pertukangan reparasi kapal pompong. Fakta sosial yang pahit, sekarang nelayan-nelayan dari Sungsang harus melaut lebih jauh untuk mencari ikan, karena wilayah tangkapan tradisional telah berubah. Arus laut dan musim ikan bergeser yang kadang mereka sulit prediksi.
Saat ini, mereka terpaksa mengeluarkan biaya solar dua kali lipat untuk mencapai titik yang sama seperti beberapa tahun lalu. Krisis sosio-ekologis ini juga diiringi dengan krisis sosial-ekonomi. Dampak krisis iklim bagi masyarakat lokal di Sungsang ini tak hanya pada ekosistem, tapi juga ekonomi rumah tangga. Penghasilan terus menurun, sedangkan pengeluaran meningkat, harga bahan pokok juga terus melambung tinggi.
Tidak hanya di petani, kami mendengarkan langsung melalui percakapan warung kopi bersama buruh nelayan sebagian juga berpandangan bahwa cukup di mereka saja yang jadi nelayan apalagi anak buah kapal, jangan sampai nasib tersebut menurun pada keturunannya. Perubahan pandangan bagi kalangan orang tua yang turun temurun berprofesi sebagai nelayan di Sungsang ini sebagai pilihan rasional seiring dengan tangkapan hasil laut yang sudah berkurang dari tahun ke tahun dan perubahan yang semakin sulit mereka prediksi, belum lagi jeratan rente dari tengkulak. Ketika semua nelayan berhenti melaut, di masa depan bait lagu nenek moyang seorang pelaut hanyalah pengiring dongeng pengantar tidur seperti dongeng “kita adalah bangsa besar” “kita adalah negara maritim & kepulauan terbesar”.
Indonesia adalah negara maritim yang jargonis, tapi selalu memunggungi laut dan masyarakat pesisir nya. Ditengah krisis iklim, masyarakat pesisir berada pada ambang ketidakpastian yang getir, upaya untuk memastikan penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood) desa atau dusun di wilayah pesisir secara ekologis, sosial-ekonomi, komunitas, dan institusional, masalah seperti keterisolasian, kemiskinan, struktur sosial yang timpang, kerusakan lingkungan, dan kekurangan infrastruktur dasar dapat menjadi perhatian utama.


